Bukan Berdebat Pancasila Tetapi Mengamalkannya

Memang berdebat, berdiskusi, dan bahkan berbantah itu penting, agar semuanya menjadi jelas, termasuk tidak terkecuali terkait Pancasila. Sudah lama Pancasila tidak saja diperdebatkan tetapi juga diajarkan, ditatarkan, diperingati, dan juga dipandang sebagai sesuatu yang sakti. Itulah sebabnya ada peringatan hari kesaktian Pancasila. Rumusan yang menjadi dasar negara itu dipandang sakti, oleh karena di antaranya Pancasila dianggap mampu mempersatukan bangsa yang sedemikian mejemuk ini.

Setelah melewati sejarah yang panjang kiranya tidak ada lagi orang yang meragukan Pancasila itu. Sebagai warga negara mengakui betapa penting dan strategisnya Pancsila dijadikan pedoman bagi seluruh warga negara ini dalam berbangsa dan berbegara. Akan tetapi, yang lebih penting lagi adalah mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari sebagaimana posisi dan perannya masing-masing.

Sebagai pejabat pemerintah, dalam mengamalkan Pancasila, yang bersangkutan tidak akan membuat keputusan dan atau kebijakan yang merlawanan atau setidaknya tidak sesuai dengan prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa, nilai-nilai kemanusian, persatuan, kerakyatan yang dijunjung tinggi, dan berkeadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. Dalam mengambil keputusan, seorang pejabat di berbagai bidang daqn levelnya seharusnya berpegang pada nilai-nilai luhur Pancasila.

Demikian pula sebagai pegawai negeri, pengusaha, agamawan, dan juga rakyat biasa, maka Pancasila seharusnya sudah menjadi pedoman hidupnya di dalam berbangsa dan bernegara itu. Kepentingan bangsa dan negara harus diutamakan di atas berbagai kepentingan lainnya. Sebagai warga negara yang baik, maka seharusnya selalu ikut sepenuhnya membela kepentingan bangsa dan negaranya. Apa saja yang menjadikan negara merugi, sekalipun dirinya sendiri beruntung, harus dibela, diamankan, dan diselamatkan.

Sebagai contoh kecil dan sederhana, tatkala misalnya ada kepentingan bangsa lain yang harus dipenuhi tetapi jelas diketahui merugikan negara dan bangsanya sendiri, maka sebagai warga negara harus menolaknya. Kepentingan bangsa dan negara harus diutamakan di atas segala-galanya, bahkan ketika harus mengutamakan negaranya, seseorang harus berani berkorban dalam bentuk apapun. Itulah sebenarnya implementasi terhadap nilai-nilai Pancasila.

Demikian pula sebagai seorang agamawan, dalam mengimpmentasikan nilai-nilai Pancasila maka seharusnya tidak saja menjadikan nilai-nilai agamanya sebagai pedoman hidupnya, tetapi juga mengajak umatnya agar mempelajari, mendalami dan menjalankan agamanya sebaik-baiknya. Sebab ber-Pancasila adalah menjalankan nilai-nilai Ketuhanan Yang Maha Esa, dan juga semua sila-sila lainnya. Sebagai seorang yang ber-Pancasila maka seharusnya juga menjalankan nilai-nilai agama itu sesempurna mungkin.

Problem menjalankan atau mengimplementasikan Pancasila itulah sebenarnya yang masih kurang sempurna. Pancasila dipandang sebagai nilai-nilai yang seharusnya dijadikan pedoman di dalam berbangsa dan berbegara, dan bahkan dianggap sakti, namun di dalam praktek kehidupan sehari-hari justru lebih banyak dilupakan dan dikesampingkan. Warga negara yang seharusnya diberi kebebasan menjalankan agamanya tetapi kebebasan itu justru dibatasi. Oleh karena tempat ibadah adalah sudah menjadi kebutuhan misalnya, maka seharusnya pemerintah justru memfasilitasi untuk memenuhinya.

Demikian pula dalam menjalankan sila-sila lainnya, seharusnya bagi siapapun mendapatkan kemudahan. Oleh karena sudah menjadi sesuatu yang dipandang ideal bagi kehidupan berbangsa dan bernegara, maka mengimplementasikan nilai-nilai luhur itu seharusnya menjadi agenda utama dan dijalankan oleh semua kalangan secara terus menerus. Di sini sebenarnya yang masih perlu direalisasikan di dalam ber-Pancasila. Idiologi bangsa ini sudah sekian lama diyakini kebenarannya, tetapi implementasi dan pengalamannya yang masih perlu ditingkatkan secara sungguh-sungguh. Bangsa ini berharap, keindahan Pancasila tidak sebatas pada tataran konsep, tetapi lebih dari itu adalah dijadikan pedoman nyata di dalam kehidupan sehari-hari. Wallahu a’lam

Sumber Tulisan, Oleh: Prof. Dr. H. Imam Suprayogo pada web. UIN Maliki MlangSenin, 3 Oktober 2016.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s