Tawuran antar Siswa dan Evaluasi Pendidikan Secara Menyeluruh

 
MINGGU, 07 OKTOBER 2012 06:49
 Ditulis oleh Prof. H. Imam Suprayoyo Rektor UIN Maliki MalangSemakin banyaknya peristiwa tawuran di kalangan para siswa pada akhir-akhir ini  menjadikan  banyak pihak  merasa prihatin. Orang tua,  guru, bahkan para pejabat pemerintah mengungkapkan kesedihannya atas  peristiwa itu.  Rawuran antar siswa mestinya tidak terjadi. Lembaga pendidikan adalah tempat anak-anak mencari ilmu, dididik menjadi anak yang baik, diberi contoh atau tauladan. Tetapi pada kenyataannya masih terjadi kenalakan dan bahkan tawuran yang  menelan korban hingga meninggal.Jumlah yang meninggal  sebagai akibat tawuran itu n tidak seberapa, hanya beberapa orang saja. Akan tetapi tidak boleh hanya alasan jumlah itu menjadikan  orang tua, guru, pemerintah dan masyarakat menganggap peristiwa itu sederhana.  Berapapun tatkala peristiwa sudah menelan korban harus dianggap besar dan tidak boleh diabaikan. Apalagi tawuran siswa selalu melibatkan puluhan dan bahkan ratusan anak-anak yang saling menyerang. Oleh karena itu,  siapapun tidak boleh menganggapnya sebagai persoalan kecil.

Memperhatikan berbagai pendapat, lewat dialog, diskusi dan bahkan juga tulisan di berbagai media massa, bahwa tawuran itu muncul dari berbagai  sebab.  Di antaranya adalah ,    dari sejarah yang sudah, perhatian sekolah yang kurang maksimal, latar belakang ekonomi, pembinaan pemerintah yang kurang maksimal, lingkungan sekolah dan keluarga, dan bahkan ada yang berpendapat bahwa jam pelajaran agama dirasa masih kurang jumlahnya. Masing-masing pandangan atau pendapat   itu disertai  oleh rasionalitasnya masing-masing.

Selain itu, ada juga yang  berpandangan bahwa tawuran  bukan disebabkan oleh satu atau dua faktor, melainkan dari akumulasi berbagai faktor yang saling berkelindan antara satu dengan lainnya.   Atas dasar pandangan itu, maka  usaha pencegahan juga seharusnya  dilakukan dengan berbagai cara, baik oleh guru, sekolah dan juga pemerintah. Akan tetapi, sekalipun cara-cara itu sudah ditempuh,  ternyata masih terjadi peristiwa seperti  itu dari waktu-ke waktu. Bahkan  semakin lama,  frekuensinya semakin banyak

Kenyataan  seperti itu menjadikan banyak orang semakin prihatin dan kebingungan, harus melakukan  apa,  sehingga peristiwa itu tidak berlanjut. Semua orang berharap bahwa korban yang baru saja terjadi diharapkan adalah yang terakhir. Menteri pendidikan dan kebudayaan juga membuat statemen bahwa kekerasan harus distop. Padahal  tanpa statemen itupun sebenarnya, sejak dulu kekerasan dan tawuran juga harus distop, tidaki boleh terjadi.

Oleh karena itu menghentikan tawuran tidak cukup hanya lewat himbauan, larangan, statamen,  dan bahkan ancaman dari manapun asalnya. Kementerian  pendidikan dan kebudayaan mestinya harus berani melakukan evaluasi secara menyeluruh tentang pelaksanaan pendidikan di negeri ini.  Pada akhir-akhir ini  telah  dilakukan peninjauan kembali terhadap  kurikulum di sekolah, mulai dari tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah atas. Peninjauan kurikulum   mestinya akan dijadikan  bahan  evaluasi  dan perbaikan  secara mendasar. Kiranya kebijakan itu penting,  sebab pada kenyataannya, ijazah  SMA tidak begitu dihargai di pasar kerja. Lulusan SMA, haya dianggap pantas menjadi  petugas security, cleaning service, dan sejenisnya.

Evaluasi  secara mendalam mestinya juga dilakukan  terhadap   ujian nasional. Konsep ujian nasional itu sendiri  mungkin dianggap  baik, agar pemerintah dan masyarakat mengetahui tentang peta dan tingkat  keberhasilan pendidikan.  Akan tetapi dalam pelaksanaannya, ternyata  tidak sedikit resiko yang muncul  dan sangat merugikan terhadap upaya membangun  nilai-nilai pendidikan. Kasus-kasus seperti pemberian kunci jawaban, adanya tim sukses ujian nasional, target-target kelulusan yang harus tercapai,  semua itu berakibat para siswa  menjadi  tahu bahwa sekolah  telah melakukan kebijakan  yang kurang  semestinya.   Kekeliruan itu  akan mengakibatkan efek buruk  pada jiwa anak-anak. Penyimpangan oleh pihak sekolah  akan dianggap menjadi hal biasa dan boleh dilakukan oleh para siswa. Hal-hal negatif seperti itu, sesungguhnya besar sekali dampaknya terhadap upaya membangun jiwa, watak, prilaku peserta didik.

Para siswa akan mau mengikuti siapapun untuk berpeilaku jujur, sabar, ikhlas, menghormati sesama teman,  menyelamatkan dan berbuat damai antar sesama teman, manakala orang-orang yang dilihatnya juga melakukan sebagaimana yang diajarkan. Mereka tidak akan mau mengikuti siapapun manakala orang yang seharusnya diikuti itu,  antara apa yang diucapkan dan dilakukan selalu berbeda. Mereka merasa dibohongi, dan siapapun tidak akan mau   diperlakukan seperti itu.  Para kyai di pesantren pada umumnya sangat dihormati dan diikuti oleh para santrinya, oleh karena para kyai berhasil mendekatkan antara yang diucapkan dengan yang dilakukan. Bahkan sekali saja kyai melakukan sesuatu yang berbeda dengan yang dicapkan, maka santrinya juga akan bubar. Peristiwa seperti itu juga benar-benar pernah terjadi di pesantren-pesantren. Kiranya apa yang terjadi di pesantren dimaksud, perlu dijadikan bahan renungan untuk menjawab  persoalan pelik,  seperti di antaranya tawuran para siswa pada akhir-akhir ini. Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s