MEMBANGUN BUDAYA MASYARAKAT BERKARTER

Pendahuluan

Banyak perilaku menyimpang kita jumpai di masyarakat. Dulu pejabat Negara itu terhormat dan dihormati Sekarang hampir semua pejabat public, bahkan presiden dan wakil presiden menjadi bahan olok-olok demonstran di jalanan.  Bahkan lapisan masyarakat yang semestinya terhormat (berkarakter) pun banyak yang bertindak anarkis. Anarkisme berlangsung dari jalanan hingga Senayan. Pertanyaannya, apakah ini perilaku musiman atau memang karakter masyarakat kita ? Mengapa terjadi begini ? salah siapa ? tanggung jawab siapa ?

Pengertian Budaya

Kebudayaan adalah konsep, keyakinan, nilai dan norma yang dianut masyarakat yang mempengaruhi perilaku mereka dalam upaya menjawab tantangan kehidupan yang berasal dari alam sekelilingnya. Sekurang-kurangnya ada enam nilai yang amat menentukan wawasan kebudayaan, yaitu : ekonomi, solidaritas, agama, seni, kuasa dan teori.  Enam nilai budaya itu selanjutnya menentukan konfigurasi kepribadian dan norma etik individu maupun masyarakat. Nilai apa yang paling dominan pada seseorang atau sekelompok orang, atau bahkan suatu bangsa akan menentukan “sosok” mereka sebagai manusia budaya (al insan madaniyyun bi at thab`i). Kebudayaan suatu masyarakat diilhami oleh tata alam, tata social, iptek dan keyakinan agama. Oleh karena itu kita mengenal ada kebudayaan Barat, kebudayaan Timur, kebudayaan Islam, dan ada kebudayaan muslim. Kebudayaan ada yang bersifat tinggi dan ada yang bersifat sederhana atau bahkan rendah (misalnya budaya korupsi). Pada tingkat “kota” kebudayaan berkembang menjadi peradaban.

Pengertian Masyarakat

Istilah masyarakat berasal dari bahasa Arab musyarakah. Dalam bahasa Arab sendiri masyarakat disebut dengan sebutan mujtama`, yang menurut Ibn Manzur dalam Lisan al `Arab mengandung arti (1) pokok dari segala sesuatu, yakni tempat tumbuhnya keturunan, (2) kumpulan dari orang banyak yang berbeda-beda .  Sedangkan musyarakah mengandung arti berserikat, bersekutu dan saling bekerjasama. Jadi dari kata musyarakah dan mujtama` sudah dapat ditarik pengertian bahwa masyarakat adalah kumpulan dari orang banyak yang berbeda-beda tetapi menyatu dalam ikatan kerjasama, dan mematuhi peraturan yang disepakati bersama . Kehendak menyatu dalam satu tatanan dari dua atau beberapa kutub perbedaan, prosesnya membutuhkan waktu yang panjang.  Masyarakat Indonesia misalnya setengah abad merdeka belum cukup waktu untuk menyatu dalam sebuah masyarakat Indonesia meski sudah diwadahi dengan istilah Bhineka Tunggal Ika. Abad pertama kemerdekaan Indonesia nampaknya masyarakat Indonesia sebagai satu kesatuan masih merupakan nation in making, masih dalam proses menjadi. Hambatan dari proses itu adalah adanya rujukan dan kepentingan yang berbeda-beda

Membangun Masyarakat

Secara lahir, masyarakat nampaknya terbangun secara alamiah, tetapi bagi pemimpin, masyarakat itu harus dibangun.  Membangun  apa saja  harus ada konsepnya. Bangunan tanpa konsep atau salah konsep akan berakibat rusaknya tatanan, Indonesia adalah negeri dengan jumlah pemeluk Islam terbesar di dunia, tetapi bangunan masyarakat Indonesia belum tentu bisa disebut masyarakat Islam, (masyarakat muslim ok). Buktinya bangsa kita Dewasa ini sedang diterpa berbagai predikat negatif, yang menjadikan agama  yang dianut seakan tidak relevan dengan kualitas masyarakatnya. Ketika dunia mengalami krisis, banyak orang mencari konsep atau pemikiran alternatif sebagai upaya mencari solusi. Diantara pemikiran yang kini ditengok adalah konsep Islam tentang berbagai hal. Seperti Islamic finance ,Bank syari’ah ,Asuransi syari’ah, akuntansi syari’ah, reksadana syari’ah, menejemen syari’ah dan sebagainya.

Dari mana memulainya ?

Rasanya kini memang sulit menentukan dari mana kita bisa memulai membangun budaya masyarakat yang berkarakter, karena kondisi tumpang tindih sebagai buah dari reformasi yang dijalankan persisi pada era globalisasi.  Bagi masyarakat ultra modern, ekpresi kebebasan demokrasi sudah sangat memuakkan, tetapi bagi kelompok urban, mereka sedang asyik-asyiknya menikmati kebebasan, bisa melempari polisi dengan batu, bisa mencaci-maki pemimpin yang dulu ditakuti, bisa merobohkan pintu gerbang kantor pemerintah dan sebagainya. Rasanya kini tidak ada teori yang bisa digunakan sebagai dasar problem solving. Belajar kepada sejarah Amerika, ternyata orang Amerika bisa juga bosan terhadap arogansi kulit putih terhadap kulit hitam. Limapuluh tahun yang lalu, orang negro benar-benar dinista dalam system social Amerika. Tetapi kini Presiden yang dipilih justru orang kulit hitam, Obama barrack. Oleh karena itu kita tidak boleh perputus asa untuk tetap membangun karakter masyarakat yang bermartabat, meski hari-hari ini kurang laku.

Membangun karakter dewasa ini sama sulitnya seperti menebar benih di musim kemarau, tidak tumbuh. Tetapi jika tidak ada yang menebar benih di musim kemarau, nanti ketika musim hujan yang tumbuh hanya alang-alang.

Pilihan-pilihan

Membangun budaya masyarakat bisa melalui lembaga pendidikan, lembaga social dan lembaga keagamaan.  Ada aktifitas strategis yang selalu dijalankan setiap tahun, tetapi nampaknya belum disadari pentingnya sebagai media pembangunan budaya masyarakat berkarakter, yaitu paskibraka, atau pasukan pengibar bendera pusaka.

Yang Nampak pada upacara 17 Agustus di istana hanya pasukan pengibar bendera pusaka yang berasal dari perwakilan pelajar se Indonesia.

Dibalik itu sesungguhnya ada rangkaian panjang kegiatan yang berstruktur dan setiap tahun, yaitu proses rekruitmen dari sekolah-sekolah di daerah, dan ke atas diseleksi terus hingga terpilih 34 orang pasukan pengibar bendera tingkat nasional, dan ini dilakukan setiap tahun.

Bersamaan dengan itu ternyata bukan hanya pengibaran bendera merah putih, tetapi juga ada lomba kuliner dan lomba adhi busana. Seluruh proses itu menanamkan budaya juara pada setiap tingkatan. Kita tahu dari pengalaman pasukan, merekja bisa menitikkan air mata ketika mencium bendera merah putih, satu penanaman rasa cinta tanah air, satu ajaran yang juga diajarkan oleh agama, hubbul wathan minal iman. Oleh karena itu sekiranya tradisi paskibraka dijadikan media pembangunan karakter nasionalis bagi generasi muda, sekaligus tradisi mental juara, akan merupakan benih karakter yang akan bertumbuhan setiap musim “hujan” di masa depan. Rasanya perlu ada yang memikirkan  “institusi” ini untuk menjadi infrastruktur budaya membangun karakter juara. Ditunggu siapa yang akan berinisiatif ?

Di tulis ulang oleh Wisono, dari materi
Sarasehan Nasional Pendidikan karakter
Ditjen Pendidikan Tinggi Depdiknas, Jakarta, 10 April 2010
OLEH : Prof. Dr. Achmad Mubarok, MA 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s